06 Mei 2021

Vaksin Covid-19 Sebagai Tambahan Esensial Menghadapi Pandemi

Publish by Humas

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UKRIDA menyelenggarakan webinar yang bertemakan  Vaksin Covid-19 Sebagai Tambahan Esensial Menghadapi Pandemi. Webinar ini dibawakan oleh narasumber dokter Nicholas Layanto, Sp.MK merupakan perwakilan dari departemen mikrobiologi  FKIK UKRIDA. 

Seperti yang kita diketahui di Indonesia, bahkan dunia terserang wabah corona virus disease (Covid-19) yang pertama kali di temukan di Wuhan, China pada akhir 2019 dan memasuki Indonesia di awal tahun 2020 telah membuat dunia kesehatan dan aspek lainnya terdampak.  Akhirnya, pada hampir akhir tahun 2020, telah ditemukan vaksin untuk menangani penyakit ini.  Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit - penyakit tertentu.

Pada webinar ini dijelaskan enam vaksin covid-19 yang ditetapkan untuk vaksinasi di Indonesia yaitu vaksin moderna, sinopharm, pfizer dan biontech, sinovac, astrazeneca, dan biofarma yang telah tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.K.01.07/Menkes/9860/2020 tetang penetapan jenis vaksin untuk pelaksanaan vaksinasi Corona Virus Disease 2019. Vaksin Moderna, merupakan vaksin  virus  corona yang diproduksi Moderna dan telah diklaim memiliki efektivitas  sebesar 94,5 persen. Moderna sendiri meyakini bahwa vaksin buatannya telah membenuhi persyaratan yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat (Food and Drug Administration (FDA) ) untuk penggunaan darurat.

Vaksin Sinopharm adalah salah satu vaksin yang melakukan uji klinis di luar negeri yang mengklaim individu yang melakukan vaksin telah melakukan perjalanan 150 negara dan saat ini belum ada kasus temuan infeksi. Prizer dan BioNtech telah mengajukan penggunaan darurat vaksin virus corona yang diproduksinya ke BPOM AS dan Eropa dan dari hasil uji coba diklaim 95 persen efektif pada virus corona dan tidak menimbulkan risiko masalah keamanan. Vaksin Sinovac  buatan dari coronavac, memakai versi non-infeksi dari virus corona untuk memicu respon imun.  Vaksin jenis sinovac ini aman, tetapi hanya menghasilkan respon imun yang moderat dengan tingkat antibodi tidak lebih dari antibody yang dihasilkan oleh pasien yang pulih dari covid-19. Vaksin AstraZeneca memiliki kefektivitasan sebesar 70 persen dari hasil uji coba yang dilakukan AstraZeneca dan universitas oxford. Vaksin jenis ini dianggap lebih mudah didistribusikan karena tidak perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin, dibuat dari versi lemah virus flu biasa dari simpanse yang telah dimodifikasi tidak tumbuh pada manusia. Vaksin BioFarma merupakan produsen vaksin dalam negeri.

Enam vaksin covid-19 yang ditetapkan untuk vaksinasi di Indonesia sebagai tambahan esensial menghadapi pandemi.

Dalam webinar ini juga dijelaskan mengenai pembentukan antibodi, efisiensi, dan efektivitas. Efisiensi adalah membandingkan kasus covid 19 antara kelompok vaksin dan kelompok plasebo saat studi awal, sedangkan efektivitas adalah membandingkan kasus covid 19 antara kelompok vaksin dan kelompok plasebo yang ada di masyarakat luas. Kelompok plasebo adalah jenis obat kosong yang tidak mengandung zat aktif dan tidak dapat memberikan efek apapun pada kesehatan.  

Selain itu juga dijelaskan mengenai vaksin DNA atau INOVIO/INO 4800 dan Vaksin RNA. Vaksi DNA ada di intradermal yang dilaksanakan 2x dalam 4 minggu. Sedangkan vaksin RNA adalah vaksin mRNA-1273/vaksin moderna, vaksin BNT162/vaksin Pfize-BioNtech, vaksin Coronavac/Sinovac Biotech, Sinopharm dan Wuhan institute of Biological Products/ Beijing Institute of Biological Products,  vaksin AstraZeneca, dan vaksin cansino Biological inc/Beijing Institute of Biotechnology (Ad5-nCov) yang telah dilakukan ujicoba dan ditemukan beberapa hasil dari beberapa jenis vaksin serta keefisiensi dan efektivitas dari vaksin vaksin tersebut. Selain vaksin vaksin diatas juga terdapat vaksin Novavax (NVX-CoV2373/rSARS-CoV2) yang merupakan vaksin nanopartikel yang dibuat berdasarkan protein S dan antibodi spesifik terdeteksi hari ke 21 dan meningka hingga hari ke 35, terutama ditambah adjuvan Matrik MI. Vaksin jenis ini IM 0-21 dan usia 18-59 tahun. Netralisasi vaksin dengan penambahan matrik dapat dilakukan pada hari ke 21, dan tanpa penambahan vaksin pada hari ke 35.

Di Indonesia sendiri telah berupaya membuat vaksin merah putih yang bekerja sama dengan Bio Farma. Vaksin Merah putih ini ada 6 versi dari Lembaga Eijkman. Vaksin yang dibuat Eijkman dengan platform subunit protein rekombinan sudah mencapai kemajuan lebih dari 50 persen dari skala alboratorium dan direncakan untuk uji pra klinik pada hewan di akhir tahun 2020. Ke enam versi vaksin merah putih ini dibuat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI), Universitas Indonesia(UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (UNAIR). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinasi fusi. Universitas Indonesia (UI) mengembangkan vaksin dengan platform DNA, mRNA, dan virus-like-particles. Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinasi. Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan vaksin dengan dua platform yakni adenovirus dan adeno-associated virus (AAV).  Vaksin yang tidak efektif akan menyebabkan keluarga medis terpapar, tenaga medis semakin kelelahan yang mengakibatkan sakit/meninggal, Rumah Sakit kewalahan, dan kasus semakin bertambah.

Ada beberapa point yang harus diperhatikan mengenai vaksinasi untuk beberapa kelompok, diantaranya peneliti-perusahaan yang tengah membuat vaksin dan mempublish hasil studi, masyarakat yang harus patuh dan diminta untuk selalu jujur mengenai status kesehatan dan riwayat perjalanan, tenaga medis yang harus mengedukasi, memberikan pengetahuan terapi, dan saling membantu, serta peran pemerintah harus memberikan regulasi yang jelas, ketat, dan tegas berdasarkan pertimbangan tim medis, publish hasil studi, dan tes lapangan.

Vaksin yang ideal adalah stabil, murah, efektif untuk kekebalan seumur hidup dengan satu pemberian, aman/tidak ada efek samping pada semua populasi, mencegah status karier, dan tidak mempersulit tes diagnostik. Walaupun kini telah terdapat vaksin, masyarakat juga tetap harus memperhatikan dan menerapkan 5M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang dapat dita lakukan untuk memutus rantai penularan COVID-19.

Tags:

all kedokteran optometri keperawatan