27 Oktober 2020

Mata Sehat peran dari Refraksionist Optician untuk Indonesia Sehat dan Maju

Publish by Administrator

Mata, salah satu indera yang sangat penting untuk menyerap informasi visual untuk berbagai aktivitas, seperti belajar, bekerja, dan kegiatan lainnya. Cara kerja mata untuk melihat sama seperti kamera.  Kita dapat melihat karena adanya cahaya dari suatu obyek, lalu mata akan menerjemahkan cahaya tersebut sehingga cahaya akan berubah menjadi gambar diotak kita.  Apabila seseorang mengalami gangguan seperti tidak mampu melihat cahaya yang jauh, maka dibutuhkan kacamata.  Lalu, siapa yang bertugas membuat dan mengecek ukuran kacamata tersebut? Siapa yang membantu seorang dokter dalam memeriksa ganguan mata? Disitulaj peran dari seorang refraksionist optician.

 Sabtu, 17 Oktober 2020 Universitas Kristen Krida Wacana program studi optometri menyelenggarakan webinar untuk mahasiswa, refraksionist optician, dan umum yang bertemakan Optomerist Beyond 2020.   Webinar yang digelar dalam peringatan World Sight Day (14 Oktober) juga memperkenalkan peran  refraksionist optician dan hal yang harus dilakukan di masa pandemi ini.

Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pretest yang mewajibkan para peserta untuk mengisi absensi dan mengerjakan soal yang disiapkan oleh panitia. Setelah doa pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mars UKRIDA, dan mars optometri yang dipimpin oleh Desi Hartati Silaen. Sebelum materi webinar dipaparkan, ada beberapa kata sambutan yang diberikan untuk para peserta seperti dari pihak UKRIDA, fakultas, dan  Ikatan Refraksi Optometri Indonesia (IROPIN).

Dalam kata sambutannya dr. Antonius Ritchi Castilani, M.Si., DFM selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UKRIDA menyampaikan beberapa harapan sekiranya webinar ini dapat bermanfaat bagi para peserta. Ibu Dian Leila Sari, A.Md.RO, SPd, MKes selaku ketua dari Ikatan Refraksi Optisi/Optometri Indonesia menyambut baik kerjasama antara UKRIDA dan IROPIN DKI Jakarta dan menyuarakan tema nasional dari hari penglihatan mata 2020  “mata sehat, Indonesia sehat, Indonesia maju”. Untuk resmi membuka sesi pemateri, Dr. dr. Wani Devita Gunardi, Sp.MK(K) selaku rektor dari UKRIDA sangat bahagia melihat respon positif dari para peserta sekaligus menyampaikan kembali tema dan tujuan dari diselenggarakannya webinar.

Webinar ini menghadirkan 4 narasumber ahli yakni Koh Liang Hwee, Ph.D., dr. Margrette Pallyama Fransiscus, Sp.M, M.Sc., dr. Kristian Goenawan, Sp.M, dan Anna Yeo, Ph.D.  Sedangkan  Widiastuti Eko Wulandari bertindak sebagai moderator.

Koh Liang Hwee, Ph.D membuka pemaparan topik ‘optometrist is a primary eye care professional, it’s more than selling spectales’, dengan pembahasan alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan mata seperti retina photography, tonometry, pachymetry, keratometry, dan lain sebagainya. Tidak hanya pengenalan akan alat pendukung, Beliau juga memberikan contoh kasus yang sering terjadi pada mata, pemeriksaan apa yang dilakukan, dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Materi kedua disampaikan oleh dr. Margrette Pallyama Fransiscus, Sp.M, M.Sc dengan topik ‘the role of optometrist in eye health care services in Indonesia’.  Di sesi ini dr. Margrette menerangkan perbedaan antara seorang optometrist, ophthalmologist, dan optician. Optometrist adalah seseorang yang tidak sekolah kedokteran, namun sekolah di jurusan optometri yang bertugas sebagai primary eye care atau kesehatan mata pertama. Opthtalmologist adalah seseorang yang telah menyelesaikan sekolah di kedokteran umum dan melanjutkan jenjang pendidikan spesialis mata, yang bertugas sebagai advance eye care. Sedangkan optician adalah seorang teknisi yang bertugas memberikan alat bantu visual, contoh kacamata.  dr. Margrette juga menjelaskan mengenai peran optometris di Indonesia yang belum banyak dikenal dikarenakan belum adanya sekolah yang menyediakan jurusan optometri. Kabar baiknya, UKRIDA menjadi tempat pertama dan satu-satunya di Indonesia saat ini yang mengadakan pendidikan jurusan optometri tersebut. Peran optometris di Indonesia diharapkan dapat memberikan penambahan pelayanan kesehatan mata melalui primary eye care, community health care, dan industri lensa.

Kristian Goenawan, Sp.M melanjutkan sesi ketiga dengan pemaparan topic ‘right to the sight’, yang kebetulan menjadi tema umum dari hari penglihatan sedunia 2020. Right to the sight menyuarakan hak untuk memperoleh penglihatan yang optimal. Di sesi ini Beliau menjelaskan tentang mekanisme melihat, kebutaan, katarak dan gangguan refraksi, juga data jumlah dokter spesialis mata di Indonesia. Angka kebutaan di Indonesia membutuhkan penanganan dari berbagai pihak, tidak hanya dari dokter spesialis mata saja tetapi dibutuhkan tenaga medis lainnya, salah satunya adalah optometris.

Sesi terakhir ‘Building Customer Confidence’ disampaikan oleh Anna Yeo, Ph.D, yang membahas keresahan dan kekuatiran pelanggan selama masa pandemi ini. Beliau memberikan tips praktis sebagai upaya perubahan baru agar para pelanggan merasa nyaman ketika berkunjung, antara lain dengan cleaning, sanitizing, disinfecting, mengatur tempat sesuai protocol kesehatan, dan juga meningkatkan pelayanan berbasis online.

Selain pemaparan materi, webinar ini juga diramaikan dengan pembagian doorprize, game yang berhadiah e-voucher dan juga bingkisan untuk pertanyaan terbaik. Di akhir sesi, Ibu Desi Hartati Silaen mengutip yang disampaikan Koh Liang Hwee “only true education, optometry can be upgrading”, yang mengajak para Refraksionist Optician untuk  terus meningkatkan ilmu  yang dimiliki dan terus berkontribusi didalam pelayanan mata.

Tags:

all optometri