Kampus Inklusif: LLDIKTI III & Ukrida Bahas Unit Layanan Disabilitas Perguruan Tinggi

Publish by Humas  |  21 Oktober 2026  |  17

all

Dihadiri Wamendiktisaintek RI Prof. Stella Christie, LLDIKTI III dan Ukrida menggelar sarasehan guna memperkuat pembentukan ULD dan kampus inklusif.

Upaya mewujudkan kesetaraan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di Indonesia memerlukan komitmen serta kolaborasi erat dari seluruh civitas akademika. Pendidikan inklusif kini tidak lagi dipandang semata sebagai pemenuhan hak dasar atau empati moral, melainkan gerakan kolektif untuk melahirkan talenta unggul bangsa.

Semangat kebersamaan tersebut mengemuka dalam kegiatan "Sarasehan dan Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Perguruan Tinggi" bertajuk "Asesmen Modalitas Perguruan Tinggi yang Inklusif bagi Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah III". Acara diselenggarakan di Auditorium Kampus 2 FKIK Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Jakarta Barat, Selasa, 20 Oktober 2026. Forum tingkat regional ini menjadi wadah berdiskusi dan berbagi pengalaman bagi perwakilan berbagai perguruan tinggi swasta maupun negeri di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Kegiatan hasil kolaborasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Komisi Nasional Disabilitas (KND), dan Ukrida sebagai tuan rumah ini dihadiri oleh jajaran pimpinan serta tokoh nasional. Di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI Prof. Stella Christie, Ph.D., Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Tambunan, S.E., M.A., Komisioner KND Jonna Aman Damanik, serta Wakil Rektor I Ukrida Dr. Ir. Oki Sunardi, S.T., M.M., IPM, ASEAN Eng.

Sebagai fasilitator, Ukrida menyambut hangat kehadiran para delegasi perguruan tinggi untuk saling belajar dan menguatkan praktik baik. Wakil Rektor I Ukrida, Dr. Oki Sunardi, menyampaikan bahwa pembentukan lingkungan kampus inklusif adalah proses belajar berkelanjutan. Langkah nyata seperti pembentukan ULD hingga integrasi Bahasa Isyarat di kampus merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang ramah bagi semua.

Sinergi ini mendapat apresiasi dari Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, yang melaporkan telah terbentuk sekitar 26 ULD di lingkungannya. Forum ini diharapkan dapat mempercepat pembentukan ULD di kampus-kampus lainnya. Harapan serupa disampaikan Agnez Geertruida Salma Siahaya, mahasiswi Sistem Informasi Ukrida 2024 penyandang tunarungu, yang menginginkan kampus memberikan aksesibilitas serta pemahaman yang setara bagi seluruh mahasiswa.

Puncak acara ditandai dengan arahan utama sekaligus peluncuran resmi Instrumen Asesmen Modalitas ULD Perguruan Tinggi melalui pemukulan gong oleh Wamendiktisaintek RI, Prof. Stella Christie, Ph.D. Dalam orasinya, Prof. Stella menegaskan bahwa penyediaan akses disabilitas merupakan investasi strategis bangsa. Menurutnya, negara membutuhkan potensi para penyandang disabilitas, sehingga mereka perlu diberikan kesempatan setara untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan plakat cinderamata serta penyerahan sertifikat secara simbolis kepada para narasumber dan pimpinan lembaga. Sesi inti sarasehan diisi oleh pemaparan Ketua ULD UNJ, Dr. Lalan Erlani, Ed.S, M.Ed, mengenai regulasi dan pemenuhan akomodasi yang layak bagi mahasiswa.

Sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh Ketua ULD Ukrida, Dr. Elli Arsita, Sp.PD, bersama Komisioner KND Jonna Aman Damanik membahas berbagai tantangan teknis, seperti tata kelola data, pendampingan disabilitas mental, hingga modifikasi kurikulum. Melalui kolaborasi ini, diharapkan seluruh perguruan tinggi dapat memperkuat fungsi ULD demi mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah, dan berkeadilan di Indonesia.

 

Angelicya Theophila Duarta - 712023016