Ketika Anak Memilih Mata Pelajaran Peminatan: Mendampingi Tanpa Mengambil Alih
Ukrida melalui Fakultas Psikologi berkontribusi dalam seminar orang tua di SMAK PENABUR Harapan Indah dengan tema “Mendampingi Anak agar Mantap Memilih Mata Pelajaran Peminatan.”
Ketika anak mulai memilih mata pelajaran peminatan, orang tua menghadapi posisi yang tidak mudah. Mereka ingin memberi arahan, tetapi perlu menyediakan ruang agar anak belajar mengenali diri dan mengambil keputusan. Pendampingan membutuhkan keseimbangan: cukup dekat untuk menolong, tetapi tidak sampai mengambil alih.
Persoalan tersebut dibahas dalam seminar orang tua bertema “Mendampingi Anak agar Mantap Memilih Mata Pelajaran Peminatan” di SMAK PENABUR Harapan Indah, Bekasi, Sabtu, 12 September 2026. Seminar berlangsung pukul 10.00–11.30 WIB dan diikuti sekitar 400 orang tua serta siswa kelas X.
Kepala SMAK PENABUR Harapan Indah, Ibu Valentina Yuwanita, M.Pd., membuka acara dengan sambutan. Seminar juga dihadiri para guru, termasuk guru bimbingan dan konseling, Ibu Erlin Nagasaputra, S.Pd., M.A., Ibu Ika Kusumaningrum, S.Pd., dan Bapak Bastian Sinambela, S.Pd.
Sesi selama 90 menit tersebut dipandu oleh William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., dosen Psikologi Karier sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Ukrida. Ia membawakan materi “Parent as Career Coach: Mendampingi, Bukan Mengambil Alih”.
William mengajak orang tua meninjau cara mereka terlibat dalam pilihan pendidikan anak. Ketika bertindak sebagai director, orang tua cenderung segera memberikan jawaban, menentukan pilihan, atau mengarahkan anak berdasarkan harapan dan kekhawatiran sendiri. Sebaliknya, seorang career coach lebih banyak mendengarkan, mengajukan pertanyaan, membuka pilihan, dan membantu anak memahami alasan di balik keputusannya.
Pemilihan mata pelajaran bukan hanya persoalan nilai, tren, atau pelajaran yang dianggap paling aman. Pilihan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk menghubungkan siapa dirinya hari ini dengan masa depan yang ingin dibangun. Anak bukan sekadar perlu memilih, tetapi juga belajar mempertimbangkan konsekuensi dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Sebagai panduan, William memperkenalkan empat “lensa” dalam percakapan orang tua dan anak: minat (interest), kemampuan (capability), nilai-nilai pribadi (values), dan prospek masa depan (future). Keempatnya perlu dipertimbangkan bersama. Minat tanpa kemampuan perlu dikembangkan, kemampuan tanpa ketertarikan mungkin sulit dipertahankan, sedangkan pilihan yang mengabaikan nilai pribadi dan masa depan dapat kehilangan arah.
Hasil asesmen minat siswa yang dibahas pada sesi sebelumnya turut digunakan sebagai bahan percakapan. William menekankan bahwa hasil asesmen bukan label ataupun keputusan akhir, melainkan cermin yang membantu anak memahami kecenderungan dirinya dan mengeksplorasi pilihan yang tersedia.
Seminar berlangsung interaktif melalui pertanyaan pemantik, berbagi pengalaman, dan tanya jawab mengenai peminatan di SMA hingga pemilihan program studi. Menjelang akhir acara, Maria Trisnawati, M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, menjelaskan jadwal dan langkah praktis pemilihan mata pelajaran peminatan.
Semangat LEAD dan Blessed to Be a Blessing diwujudkan dalam pendampingan konkret bagi keluarga.
Seminar ini meninggalkan satu pesan penting: keputusan yang baik bukan sekadar keputusan yang disetujui orang tua, melainkan keputusan yang dipahami, dipilih, dan berani dipertanggungjawabkan oleh anak. Tugas orang tua bukan berjalan di depan sambil menarik anak menuju jalan yang telah ditentukan. Orang tua hadir di sampingnya—membantu membaca peta, mempertimbangkan persimpangan, dan perlahan memercayakan langkah berikutnya kepada anak.
Deslan Rafli Hidayanto - 502024033


