Ukrida dan SMK Farmasi BPK PENABUR Dorong Pendidik Menjadi “Mindful Educator” melalui Navigasi Emosi

Publish by Humas  |  30 September 2026  |  5

all fakultas-psikologi

Ukrida melalui Fakultas Psikologi menghadirkan workshop “The Mindful Educator: Panduan Navigasi Emosi di Sekolah” bagi guru dan karyawan SMK Farmasi BPK PENABUR. 

Menjadi pendidik bukan berarti harus selalu tenang atau tidak pernah merasa lelah, kecewa, marah, maupun cemas. Justru, kemampuan mengenali apa yang terjadi dalam diri menjadi bagian penting agar seorang pendidik dapat memilih bagaimana ia hadir bagi siswa dan orang-orang di sekitarnya.

Hal tersebut menjadi fokus workshop “The Mindful Educator: Panduan Navigasi Emosi di Sekolah” yang menghadirkan Bapak William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) sebagai narasumber. Kegiatan pada 21 September 2026 ini diikuti oleh guru dan karyawan SMK Farmasi BPK PENABUR.

Dalam workshop ini, peserta diperkenalkan pada kerangka 3R: Recognize, Regulate, Relate atau Kenali Emosinya, Kelola Responsnya, dan Jaga Relasinya. Ketiganya menggambarkan proses yang saling berkaitan dalam menghadapi situasi emosional di sekolah.

Tahap pertama adalah Recognize, yaitu kemampuan mengenali emosi sebelum terburu-buru merespons. Peserta diajak memahami bahwa tidak ada emosi yang sepenuhnya “buruk”. Marah dapat memberi sinyal bahwa ada batas atau nilai yang dilanggar, takut dapat menunjukkan adanya ancaman atau risiko, sedih dapat berkaitan dengan kehilangan, sedangkan cemas dapat muncul ketika menghadapi sesuatu yang belum pasti. Oleh karena itu, emosi adalah informasi, bukan instruksi. Emosi perlu didengarkan pesannya, tetapi tidak harus langsung diikuti dorongannya.

Kemampuan mengenali emosi juga membutuhkan emotional granularity, yaitu kemampuan memberi nama emosi secara lebih spesifik. Alih-alih hanya mengatakan sedang bad mood, seseorang dapat bertanya, “Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?” Nama emosi yang berbeda dapat menunjukkan kebutuhan dan respons yang berbeda pula.

Tahap berikutnya adalah Regulate. Mindfulness bukan tentang menghilangkan emosi, melainkan menciptakan ruang antara emosi dan tindakan. Ketika muncul trigger, individu dapat berhenti sejenak, menyadari apa yang terjadi dalam tubuh dan pikirannya, lalu memilih respons yang sesuai dengan tujuan. Pause is not doing nothing; pause is making room for choice.

Dalam praktiknya, peserta diajak mencoba 60-second pause dengan menyadari napas, memperhatikan sensasi tubuh, dan memberi nama pada perasaan yang muncul. Peserta juga membandingkan respons otomatis dengan respons yang telah melalui jeda. Bukan untuk menjadi pasif, tetapi untuk tetap tegas tanpa melampiaskan emosi.

Terakhir, Relate menekankan bagaimana pengelolaan emosi berdampak pada relasi. Melalui mindful listening, peserta belajar untuk hadir sebelum berusaha memperbaiki keadaan. Mendengarkan berarti tidak buru-buru memotong, menasihati, memberikan solusi, atau mengalihkan cerita kepada pengalaman diri sendiri. Sebab, self-regulation dapat menjadi dasar bagi co-regulation dalam hubungan dengan orang lain.

Oleh karena itu, menjadi mindful educator bukan tentang menjadi pendidik yang tidak pernah memiliki emosi, melainkan pendidik yang mengenali emosinya, mengelola responsnya, dan memilih bagaimana ia ingin hadir bagi orang lain. Melalui semangat “Blessed to Be a Blessing”, Fakultas Psikologi Ukrida terus menghadirkan ilmu psikologi yang relevan agar setiap pribadi dapat bertumbuh dan menjadi berkat, sejalan dengan semangat “LEAD to Impact” untuk menghadirkan dampak nyata bagi sesama.

 

Eulalia Harfa - 502024013

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait