Digital Parenting di Era AI: Ukrida Ajak Orang Tua Sekolah Terang Mulia Jadi Lebih Menarik dari Gadget

Publish by Humas  |  30 September 2026  |  2

all fakultas-psikologi

Ukrida melalui Fakultas Psikologi menghadirkan webinar parenting bagi orang tua siswa Sekolah Terang Mulia dengan tema “Di Era AI, Siapa yang Sedang Membentuk Anak Kita?” Kegiatan ini membahas peran orang tua dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi dan era kecerdasan buatan (AI).

Gadget bisa memutar video tanpa henti, gim selalu menawarkan tantangan baru, dan AI dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Di tengah dunia digital yang begitu menarik, orang tua menghadapi tantangan baru, yaitu bagaimana membuat kehadiran keluarga tetap menjadi sesuatu yang dicari dan dinikmati anak?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam webinar parenting bagi orang tua siswa Sekolah Terang Mulia pada Sabtu, 26 September 2026. Kegiatan yang dihadiri 90 orang tua siswa dari tingkat Nursery, K1, K2, hingga Primary 1–6 ini dibuka oleh Ibu Dr. Ir. Syanti D. Mulia, MIT, M.Pd., M.Th., selaku Founding Principal Sekolah Terang Mulia. Turut hadir Ibu Safieria Elaina, S.E., serta Ibu Santi Helena selaku koordinator acara. Webinar menghadirkan Bapak William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., Dekan Fakultas Psikologi Ukrida dan Ketua Center for Career Development & Assessment (CCDA) melalui tema “Di Era AI, Siapa yang Sedang Membentuk Anak Kita?” 

Teknologi bukan sekadar alat yang digunakan anak. Autoplay, rekomendasi, notifikasi, hingga AI terus menarik perhatian dan membuat anak ingin kembali menggunakannya. AI bahkan dapat memberikan respons yang terasa seperti memahami pengguna. Namun, teknologi tetap tidak mengenal kebutuhan, nilai, dan keselamatan anak seperti orang dewasa yang sungguh hadir di kehidupannya.

Dalam sesi, orang tua diperkenalkan pada lima level penggunaan digital, yaitu konsumtif, rekreatif, kreatif, bertujuan, dan transformatif. Kerangka ini tidak dimaksudkan untuk memberi label baik atau buruk, sebab setiap tingkat dapat memiliki fungsi sesuai usia dan konteks. Yang lebih penting adalah mengajak keluarga bercermin, selama ini, teknologi paling sering digunakan untuk apa di rumah kita? Apakah hanya menerima hiburan, atau juga membantu anak mencipta, belajar, melayani, dan memberi makna?

Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi “lebih seru” dari gadget. Bukan berarti harus terus-menerus menghibur anak. Rumah perlu menjadi ruang aman sekaligus ruang bermain dan belajar yang menyenangkan, seperti memasak bersama, bercerita di meja makan, membuat sesuatu, berjalan-jalan, bercanda, bermain permainan sederhana, atau sekadar memberi perhatian penuh ketika anak ingin bercerita.

Tanggung jawab ini juga tidak perlu dipikul seorang diri. Melalui co-parenting, ayah, ibu, dan figur pengasuh perlu memiliki kesepakatan yang cukup konsisten mengenai penggunaan teknologi. Aturan tentang waktu, tempat, konten, dan momen tanpa gadget akan lebih mudah dipahami anak ketika orang dewasa juga melakukannya.

Bahkan momen ketika anak menangis karena video dihentikan atau marah karena gim harus selesai dapat menjadi teachable moment. Orang tua dapat membantu anak menenangkan diri terlebih dahulu, memberi nama pada emosinya, lalu menawarkan pilihan sederhana. Dari proses co-regulation inilah anak perlahan belajar self-regulation dengan mengatur perhatian, emosi, pilihan, dan perilakunya sendiri. 

Pada akhirnya, algoritma belajar dari perhatian anak, tetapi anak belajar dari kehadiran kita. Melalui semangat Blessed to Be a Blessing dan LEAD to Impact, Fakultas Psikologi Ukrida bersama CCDA mendorong keluarga bukan sekadar membatasi screen time, tetapi menghadirkan rumah yang membuat anak ingin kembali untuk bermain, belajar, bercerita, dan bertumbuh bersama.

 

 

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait