Universitas Kristen Krida Wacana dan Pusat Pengembangan Anak Dorong Penguatan Pola Asuh Orang tua di Sumba Timur

Publish by Humas  |  08 September 2026  |  4

all psikologi

Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Anak menyelenggarakan rangkaian kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan orang tua di Waingapu, Sumba Timur, pada 17–18 Agustus 2026.

Waingapu, Sumba Timur - Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Anak menyelenggarakan rangkaian kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan orang tua di Waingapu, Sumba Timur, pada 17–18 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak di Sumba Timur.

Sumba Timur memiliki kekuatan sosial berupa ikatan keluarga dan komunitas yang kuat. Namun, keluarga juga menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan kebutuhan dan perlindungan anak. Salah satunya adalah persoalan gizi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Sumba Timur masih menjadi permasalahan utama. Selain itu, adanya kasus kekerasan terhadap anak di Sumba Timur, juga menjadi tantangan yang perlu dihadapi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan keluarga sebagai salah satu bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung bagi anak.

Mengasuh dengan Kasih, Membimbing dengan Wibawa

Kegiatan penyuluhan pola asuh orang tua ini dilakukan oleh Dr. Evans Garey, M.Si (dosen Fakultas Psikologi Ukrida). Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Pola Asuh Orang tua pada 17 Agustus 2026 yang diikuti oleh 110 orang tua. Seminar mengangkat tema “Mengasuh dengan Kasih, Membimbing dengan Wibawa”.

Dalam kegiatan tersebut, orang tua diajak memahami bahwa kasih kepada anak tidak hanya ditunjukkan melalui pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga perlu dirasakan anak melalui hubungan yang dekat. Beberapa praktik sederhana yang diperkenalkan adalah menyapa anak dengan nama, bermain dengan anak, mendengarkan anak tanpa langsung menghakimi, dan memberikan pujian yang spesifik.

Selain membangun hubungan yang hangat, peserta juga diajak memahami bahwa mendisiplinkan anak tidak harus dilakukan dengan tindakan yang keras. Pendekatan pola asuh yang positif menekankan keseimbangan antara kasih dan ketegasan orang tua. Orang tua tetap memiliki aturan dan batasan yang jelas, tetapi menyampaikannya dengan cara yang tidak membuat anak takut untuk mendekat dan berbicara kepada orang tua.

 

Dr. Evans Garey, M.Si. - Dosen fakultas Psikologi

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait