Ukrida Dukung Wellbeing Guru dan Siswa melalui Seminar “From Teacher Well-Being to Student Well-Being” bagi Guru SMPK PENABUR Jakarta

Publish by Humas  |  30 Juli 2026  |  2

all psikologi

Ukrida melalui Pusat Layanan Psikologi (PLP) Fakultas Psikologi menggelar seminar "From Teacher Well-Being to Student Well-Being" bagi 584 guru dan kepala sekolah SMPK PENABUR Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026, sebagai upaya mendukung kesejahteraan psikologis guru dan siswa

Pusat Layanan Psikologi (PLP) Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) kembali berperan aktif dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui seminar bertajuk “From Teacher Well-Being to Student Well-Being” yang diselenggarakan bagi para guru SMPK PENABUR Jakarta, pada Selasa, 7 Juli 2026 di Sekolah Penabur Kota Wisata. Kegiatan Hari Pembinaan Guru yang diikuti oleh 584 guru dan kepala sekolah ini menjadi bagian dari upaya BPK PENABUR Jakarta dalam memperkuat ekosistem sekolah yang sehat, dengan menempatkan kesejahteraan psikologis guru dan siswa sebagai fondasi penting dalam proses pembelajaran.

Dalam sambutannya, Kepala Jenjang SMPK PENABUR Jakarta, Ibu Ferry Marwanti, S.P., M.P.. menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah membangun lingkungan yang mendukung kesejahteraan seluruh warganya. Pesan tersebut mencerminkan komitmen BPK PENABUR Jakarta dalam membangun budaya sekolah yang memberi perhatian pada kesejahteraan psikologis, baik bagi guru maupun siswa, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas pendidikan.

Seminar terdiri atas dua sesi yang saling melengkapi. Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Pinkan Margaretha, M.Psi., Psikolog, Kepala Pusat Layanan Psikologi Ukrida, yang mengangkat tema Teacher Wellbeing. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa kesejahteraan guru tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya tuntutan pekerjaan, tetapi juga oleh kemampuan individu dan organisasi dalam membangun sumber daya psikologis yang mendukung. Para peserta melakukan refleksi melalui asesmen berbasis Teacher Subjective Wellbeing, Job Demands–Job Resources (JD-R), serta PERMA Wellbeing Framework.

Model PERMA, yang dikembangkan oleh Martin Seligman, menjelaskan bahwa kesejahteraan dibangun melalui lima dimensi, yaitu Positive Emotion (emosi positif), Engagement (keterlibatan), Relationship (hubungan yang positif), Meaning (makna), dan Accomplishment (pencapaian). Melalui pendekatan berbasis riset tersebut, para guru diajak mengenali kekuatan sekaligus area pengembangan yang dapat membantu mereka menjaga kesejahteraan psikologis dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.

Sesi kedua dibawakan oleh Mariska Johana Puteri, M.Psi., Psikolog, yang mengangkat tema Student Wellbeing. Pada sesi ini, para guru memperoleh pemahaman mengenai karakteristik perkembangan remaja usia SMP serta tantangan psikososial yang mereka hadapi. Peserta juga dibekali berbagai strategi praktis untuk mengimplementasikan prinsip PERMA dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, sehingga siswa dapat mengembangkan emosi positif, membangun relasi yang sehat, menemukan makna dalam proses belajar, meningkatkan keterlibatan, serta merasakan pencapaian yang bermakna.

Melalui kedua sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa kesejahteraan guru dan kesejahteraan siswa merupakan dua aspek yang saling berkaitan. Guru yang sehat secara psikologis akan lebih mampu membangun relasi yang positif, menciptakan iklim belajar yang aman, dan mendukung perkembangan karakter maupun potensi siswa secara optimal.

 

Dr. Pinkan Margaretha Indira, M.Psi., Psikolog - Fakultas Psikologi