Riset Psikologi UKRIDA: Kedekatan dengan Orang Tua dan Teman Sebaya Berkaitan dengan Komitmen Religius Remaja Kristen
Penelitian Fakultas Psikologi Ukrida menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dengan orang tua, terutama ayah, serta teman sebaya berhubungan positif dengan komitmen religius dan pertumbuhan iman remaja Kristen.
Penelitian Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan aman dengan orang tua serta teman sebaya berkaitan positif dengan komitmen religius remaja Kristen. Temuan ini memberi pesan penting bagi keluarga, sekolah, dan gereja: kehidupan iman remaja tidak hanya berkaitan dengan pengajaran agama, tetapi juga dengan kualitas relasi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian berjudul The Relationship between Attachment to Parents and Peers and Religious Commitment in Christian Teens dilakukan oleh Meitty Yani dan William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC. Artikel ini diterbitkan dalam Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, jurnal yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).
Studi ini melibatkan 310 remaja Kristen Indonesia berusia 15–21 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kelekatan remaja dengan ayah, ibu, dan teman sebaya memiliki hubungan positif dan signifikan dengan komitmen religius. Dengan kata lain, remaja yang merasa lebih aman, dipercaya, diterima, dan dapat berkomunikasi secara terbuka dalam relasi terdekatnya cenderung memiliki komitmen religius yang lebih tinggi.
Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa kelekatan dengan ayah menunjukkan korelasi paling tinggi dengan komitmen religius remaja, dibandingkan dengan kelekatan dengan ibu maupun teman sebaya. Temuan ini tidak berarti bahwa ayah menjadi satu-satunya penentu iman anak, tetapi menunjukkan bahwa hubungan ayah dan anak merupakan aspek yang penting untuk diperhatikan dalam pendampingan remaja.
Temuan tersebut relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu fatherless, yaitu kondisi ketika ayah tidak hadir secara utuh dalam kehidupan anak. Fatherless tidak selalu berarti ayah tidak tinggal bersama anak. Dalam banyak kasus, ayah mungkin hadir secara fisik, tetapi kurang tersedia secara emosional, mental, atau spiritual.
Dalam materi pembinaan keluarga Fatherless, Gunawan (2025) mengangkat Responsible Fathering Model yang menjelaskan tiga aspek penting peran ayah, yaitu provider, protector, dan presence. Artinya, ayah tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan dan melindungi anak, tetapi juga perlu hadir secara emosional, mental, dan spiritual. Pesan praktisnya sederhana: “Hadirlah, bukan hanya ada.”
Dalam konteks penelitian ini, kehadiran ayah yang hangat, dapat dipercaya, dan terbuka dalam komunikasi dapat menjadi lingkungan relasional yang mendukung remaja untuk merasa aman dalam bertanya, berdiskusi, dan menghayati nilai-nilai iman. Karena itu, keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari anak perlu dipahami bukan hanya sebagai tanggung jawab keluarga, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendampingan iman remaja.
Selain ayah, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kelekatan dengan ibu dan teman sebaya tetap berkaitan positif dengan komitmen religius remaja. Komunikasi yang terbuka dalam keluarga dan lingkungan pertemanan yang sehat dapat memberi ruang bagi remaja untuk berbagi pengalaman, memperoleh dukungan emosional, serta menghidupi nilai-nilai yang mereka yakini.
Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini bersifat korelasional. Artinya, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kelekatan dan komitmen religius, tetapi tidak membuktikan bahwa kelekatan secara langsung menyebabkan komitmen religius. Faktor lain, seperti pengalaman gerejawi, pendidikan iman, kepribadian, budaya keluarga, dan lingkungan sosial, juga dapat memengaruhi kehidupan religius remaja.
Melalui temuan ini, Fakultas Psikologi Ukrida mengajak keluarga, sekolah, gereja, dan komunitas untuk memperhatikan kualitas relasi dengan remaja. Pertumbuhan iman tidak hanya berkaitan dengan apa yang remaja dengar, tetapi juga dengan bagaimana mereka diperlakukan. Relasi yang hangat, aman, terbuka, dan penuh kepercayaan dapat menjadi ruang penting bagi remaja untuk mengembangkan komitmen religius yang lebih matang.
Bersama Center for Career Development and Assessment (CCDA), Fakultas Psikologi Ukrida terus mengembangkan penelitian dan pengabdian yang relevan bagi keluarga, pendidikan, gereja, dan perkembangan generasi muda. Berangkat dari semangat Blessed to Be a Blessing dan Lead to Impact, setiap temuan ilmiah diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Referensi
Farley, W. P. (2009). Gospel-Powered Parenting: How the Gospel Shapes and Transforms Parenting. P&R Publishing.
Gunawan, W. (2025). Fatherless. Materi pembinaan keluarga.
Yani, M., & Gunawan, W. (2025). The Relationship between Attachment to Parents and Peers and Religious Commitment in Christian Teens. Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, 24(1), 13–29.
Eulalia Harfa - 502024013
