Silent Battles dalam Keluarga Karena Emosi yang Terpendam dan Dinamika Antargenerasi

Publish by Humas  |  25 Juni 2026  |  8

all psikologi

Dalam Family Stories #eps14 Part 1, Dr. Yasinta Astin Sokang, M.Psi., Psikolog, mengulas fenomena silent battles dalam keluarga dan pentingnya memahami kelelahan emosional yang kerap tidak terlihat.

Fenomena silent battles atau pergumulan emosional yang tersembunyi dalam keluarga menjadi perhatian dalam episode Family Stories #eps14 Part 1 yang diselenggarakan oleh Focus on the Family Indonesia. Dalam episode berjudul Secretly We’re Exhausted: Silent Battles Within the Family, dosen Program Studi Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Dr. Yasinta Astin Sokang, M.Psi., Psikolog, hadir sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Astin Sokang, Psikolog menjelaskan bahwa konflik keluarga tidak selalu tampak dalam bentuk pertengkaran besar, tetapi sering muncul dalam bentuk sikap diam, penarikan diri, atau kebiasaan menyimpan beban emosional. Kondisi ini banyak dipengaruhi oleh tuntutan sosial untuk selalu terlihat “baik-baik saja”, yang pada akhirnya dapat membuat individu tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secara sehat.

Perbedaan generasi juga menjadi sorotan dalam pembahasan ini. Generasi yang lebih tua cenderung dibentuk untuk menahan emosi dan menjadi kuat secara mandiri, sementara generasi yang lebih muda lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan, meskipun sering mendapat label tertentu dari lingkungan sosial. Perbedaan pola ini dapat memengaruhi cara keluarga dalam merespons konflik dan kebutuhan emosional satu sama lain.

Dr. Astin Sokang, Psikolog juga menyoroti dampak dari emosi yang tidak diproses dengan baik, yang dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis seperti kelelahan emosional, gangguan tidur, hingga burnout. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga, karena niat untuk melindungi dengan cara menyembunyikan masalah justru sering menciptakan jarak emosional antar anggota keluarga.

Lebih lanjut, perbedaan strategi coping antara pria dan wanita turut menjadi perhatian dalam diskusi. Pria cenderung fokus pada penyelesaian masalah, sementara wanita lebih membutuhkan ruang untuk didengarkan dan dipahami. Tanpa kesadaran diri (self-awareness), perbedaan ini dapat menjadi sumber miskomunikasi dalam relasi keluarga.

Kehadiran Dr. Astin Sokang, Psikolog dalam program ini mencerminkan kontribusi Psikologi Ukrida dalam menghadirkan perspektif ilmiah yang humanis, sejalan dengan semangat “Blessed to be a Blessing”, yaitu menghadirkan pemahaman psikologi yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membantu keluarga bertumbuh menuju relasi yang lebih sehat dan saling menguatkan.

 

Dr. Yasinta Astin Sokang, M.Psi., Psikolog - Fakultas Psikologi