Pure Love, Clear Boundaries: Penguatan Kesadaran Guru Yayasan Eben Haezer terhadap Risiko Grooming pada Siswa
Ibadah Bulanan Yayasan Eben Haezer pada 14 Maret 2026 mengangkat tema “Pure Love, Clear Boundaries” sebagai sarana refleksi bagi guru dan staf untuk memahami pentingnya relasi sehat, kesadaran risiko grooming, dan menjaga batasan profesional.
Ibadah Bulanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Eben Haezer pada Sabtu, 14 Maret 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus pembelajaran bagi para pendidik. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WITA ini melibatkan guru dan staf dari berbagai unit pendidikan, dengan total sekitar 200 peserta. Mengangkat tema “Pure Love, Clear Boundaries”, ibadah berlangsung dalam suasana yang khusyuk, diawali dengan pujian dan doa yang mengarahkan hati peserta untuk merefleksikan panggilan sebagai pendidik. Meskipun dilaksanakan secara daring dengan peserta yang terpisah antara Jakarta dan Manado, kekhidmatan dan antusiasme tetap terasa sepanjang kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini menghadirkan William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana, yang aktif sebagai konselor dan narasumber dalam bidang psikologi terapan. Ia merupakan lulusan Program Doktor (S3) Psikologi Karier dari School of Applied Psychology, Griffith University, Australia. Dalam sesi ini, William menghadirkan perspektif psikologi yang aplikatif dengan tetap mengaitkannya pada nilai-nilai spiritual yang relevan dalam dunia pendidikan.
Mengawali sesi, William mengajak peserta masuk dalam refleksi sederhana melalui pertanyaan tentang bagaimana respons seorang guru ketika menghadapi siswa yang sedang mengalami masalah serius. Suasana menjadi lebih hening dan personal ketika para peserta mulai membayangkan peran mereka di tengah situasi tersebut. Respons yang muncul menunjukkan kepedulian yang besar, sekaligus membuka kesadaran bahwa empati perlu disertai dengan batasan relasi yang sehat.
Memasuki materi inti, William menyoroti fenomena grooming sebagai bentuk manipulasi relasi yang dapat terjadi secara perlahan melalui kedekatan emosional. Ia menekankan bahwa niat baik dan perhatian kepada siswa perlu diimbangi dengan kejelasan batasan agar tidak menimbulkan relasi yang berisiko. Untuk membantu peserta lebih peka, ia juga menyinggung kasus yang sempat menjadi perhatian publik, sehingga peserta dapat melihat relevansi isu ini dalam kehidupan nyata.
Sebagai bagian dari refleksi, peserta diajak mengisi kuesioner singkat terkait dinamika relasi dengan siswa. Hasilnya membantu peserta menyadari bahwa kedekatan emosional memang penting, namun tetap perlu dikelola secara profesional. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh perhatian dan ditutup dengan doa yang meneguhkan kembali panggilan guru sebagai pribadi yang menghadirkan kasih sekaligus menjaga batasan.
Melalui kegiatan ini, para guru diingatkan bahwa relasi pendidikan yang sehat dibangun atas dasar kasih yang murni dan batasan yang jelas. Fakultas Psikologi UKRIDA terus berkomitmen menghadirkan program edukatif yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bermakna bagi setiap siswa.
Jonathan Hasiholan Hutagalung - 502023075


