Sinergi Artificial Intelligence dan Profesionalisme Insinyur dalam Kuliah Umum FTC
all informatika teknik-industri teknik-elektro teknik-sipil sistem-informasi psppi
Fakultas Teknologi Cerdas (FTC) Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sinergi Artificial Intelligence dan Profesionalisme Insinyur” pada Kamis, 19 Februari 2026 di Auditorium Kampus 1 Lt. 7 UKRIDA.
Fakultas Teknologi Cerdas (FTC) Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sinergi Artificial Intelligence dan Profesionalisme Insinyur” pada Kamis, 19 Februari 2026 di Auditorium Kampus 1 Lt. 7 UKRIDA. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari Pertemuan Awal Kuliah Semester Genap 2025/2026 yang diadakan secara hybrid dan dipandu oleh Dr. Ir. Elkana Timotius, S.T., M.M., M.T., IPU.
Acara dibuka dengan sambutan Dekan FTC, Ir. Eddy Wijanto, S.T., M.T., Ph.D., IPU, yang menekankan pentingnya integritas dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Beliau menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi harus selalu diimbangi dengan etika dan tanggung jawab profesional, khususnya bagi para calon insinyur yang akan berkiprah di era digital.
Pada sesi pertama, Ir. Ngadiyanto, SE, ST, IPM, ASEAN Eng. sebagai Ketua PII Jakarta Selatan, memaparkan urgensi sertifikasi dan registrasi insinyur profesional sesuai amanat Undang-Undang Keinsinyuran. Beliau menjelaskan bahwa profesi insinyur tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga legalitas, akuntabilitas, serta komitmen terhadap perlindungan masyarakat.
Sertifikasi melalui Program Profesi Insinyur (PPI), Sertifikat Kompetensi Insinyur (SKI), serta Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) menjadi instrumen penting untuk menjamin mutu pembangunan, keselamatan publik, dan kepastian tanggung jawab hukum. Registrasi melalui Persatuan Insinyur Indonesia (PII) juga membuka peluang pengakuan internasional melalui skema seperti APEC Engineer Register dan ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE).
Lebih lanjut, beliau menyoroti tantangan Indonesia dalam ketersediaan insinyur profesional. Data menunjukkan bahwa rasio insinyur per satu juta penduduk di Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara lain di kawasan Asia. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas sekaligus kuantitas insinyur profesional merupakan kebutuhan strategis bagi pembangunan nasional.
Untuk memperkuat urgensi tersebut, turut dipaparkan contoh kasus kegagalan proyek konstruksi di Indonesia. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kelalaian teknis, lemahnya pengawasan, serta ketidakpatuhan terhadap standar profesi dapat berdampak serius terhadap keselamatan publik. Melalui pemaparan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa profesionalisme bukan sekadar formalitas, melainkan wujud tanggung jawab nyata kepada masyarakat.
Sesi kedua menghadirkan Marco Widjojo, B. Comp., MBA, CEO SALT sebagai CEO Salt, yang mengangkat topik “Will AI Replace Us or Empower Us?”. Beliau menegaskan bahwa transformasi akibat AI sedang berlangsung saat ini, bukan lagi sekadar prediksi masa depan. Otomasi dan sistem cerdas semakin luas diadopsi di berbagai sektor industri, sehingga turut mengubah ekspektasi terhadap kompetensi tenaga kerja.
Menurutnya, AI bukan menggantikan insinyur, melainkan menggeser fokus pekerjaan mereka ke ranah yang lebih strategis dan bernilai tambah tinggi. Tugas-tugas repetitif dan prosedural dapat didukung oleh AI, sementara insinyur tetap berperan penting dalam pengambilan keputusan, perancangan sistem kompleks, serta penguatan kolaborasi manusia dan mesin.
Transformasi ini tampak di berbagai bidang engineering: pada sektor sipil melalui smart design dan inspection; di bidang industri melalui robot otonom dan predictive maintenance; pada electrical engineering melalui smart grids dan intelligent sensing; serta di bidang IT melalui AI-assisted development yang semakin umum digunakan.
Beliau juga menyoroti munculnya berbagai peran baru, seperti robotic maintenance engineer, predictive maintenance engineer, hingga profesi di bidang AI development dan AI ethics. Dengan demikian, AI tidak hanya menggeser sebagian pekerjaan, tetapi juga membuka peluang baru bagi individu yang siap beradaptasi dan meningkatkan kompetensinya.
“AI won’t replace engineers. Engineers who use AI will replace those who don’t,” tegasnya, menekankan bahwa kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi merupakan kunci daya saing di era transformasi digital.
Di akhir sesi, beliau mengingatkan bahwa kemampuan manusia, seperti kreativitas, empati, penalaran etis, dan berpikir kritis, tetap menjadi keunggulan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Vanesa Jeanne - 712023013


