Dari Tes Minat ke Percakapan Karier: Fakultas Psikologi Ukrida Latih 47 Konselor Program 3S
Fakultas Psikologi Ukrida mengadakan Training for Counselor Program 3S bagi 47 konselor untuk memperkuat pendampingan siswa dalam mengenali potensi diri dan menentukan pilihan pendidikan serta karier.
Hasil tes minat dapat memberi petunjuk tentang diri seseorang. Namun, angka dan kode tidak dapat menentukan masa depan, sehingga konselor karier bukan bertugas memilihkan jurusan. konselor membantu siswa mengenali diri, memahami berbagai pilihan, serta menentukan langkah secara lebih sadar.
Prinsip tersebut menjadi dasar Training for Counselor (TFC) Program Sukses Setelah Sekolah (3S) yang dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026 dan Jumat, 9 Oktober 2026. Pelatihan bagi 47 konselor 3S ini dibawakan oleh Bapak William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC., Dekan Fakultas Psikologi Ukrida sekaligus Ketua Center for Career Development & Assessment (CCDA). Kegiatan turut didampingi Tim 3S yang terdiri atas Joyce Arfista, Eulalia Harfa, dan Matthias Matiness Silwanus.
Dalam Program 3S, siswa menjalani rangkaian asesmen Self-Directed Search (SDS), seminar karier, serta konseling kelompok. Pendampingan dibangun melalui tiga proses utama, yaitu mengenali diri, menjelajahi pilihan, dan menentukan langkah. Dengan demikian, hasil asesmen digunakan sebagai awal percakapan. Keputusan akhir tetap berada pada siswa.
Calon konselor kemudian mempelajari teori perkembangan karier Donald Super. Eksplorasi karier dipahami sebagai proses yang bertahap. Pada tahap kristalisasi, siswa mulai melihat pola minat, nilai, dan berbagai kemungkinan. Pada tahap spesifikasi, pilihan mulai disaring melalui informasi yang lebih mendalam. Tahap implementasi mendorong siswa mencoba langkah nyata sesuai usia dan kondisinya.
Materi RIASEC juga diperdalam agar konselor tidak menjadikan kode Holland sebagai label pekerjaan. Profil siswa dibaca melalui empat sudut pandang. Differentiation melihat seberapa jelas minat utama terlihat. Consistency melihat hubungan antara tipe minat yang dominan. Vocational identity membantu memahami seberapa jelas siswa mengenali minat, kemampuan, nilai, tujuan, dan gambaran dirinya dalam dunia kerja. Sementara itu, congruence melihat kesesuaian antara karakteristik individu dengan lingkungan yang dipilih.
Artinya, kode RIASEC tidak digunakan untuk mengatakan bahwa satu tipe pasti cocok dengan satu jurusan. konselor justru dilatih menggali pengalaman. Pertanyaan seperti kegiatan apa yang paling disukai siswa dapat membuka informasi yang lebih kaya daripada sekadar memberikan saran. Skor menjadi awal percakapan, bukan akhir pengambilan keputusan.
Pelatihan juga memperkenalkan CIP dan CASVE untuk membantu konselor menemukan sumber kebuntuan siswa. Kesulitan dapat muncul karena siswa belum memahami kebutuhannya, kekurangan informasi, belum melihat alternatif, kesulitan menimbang pilihan, atau belum menentukan langkah. Setelah itu, struktur Egan digunakan untuk mengarahkan percakapan dari situasi yang sedang dialami, kondisi yang ingin diperjelas, hingga langkah yang dipilih siswa.
Seluruh keterampilan tersebut dipraktikkan melalui latihan kasus dan simulasi triadik dengan peran konselor, siswa, serta pengamat. Peserta belajar mendengarkan, merangkum, memeriksa kembali pemahaman, menjaga privasi, dan mengetahui batas peran konselor.
Melalui semangat “Blessed to Be a Blessing” dan “LEAD to Impact”, Fakultas Psikologi Ukrida bersama CCDA siap melalui Program Sukses Setelah Sekolah (3S) untuk mendampingi generasi muda mengenali potensinya, mengeksplorasi pilihan pendidikan dan karier, serta mengambil langkah masa depan secara lebih matang. Sebab, pendampingan yang baik bukan tentang memberikan semua jawaban, melainkan membantu siswa belajar menemukan arah dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Matthias Matiness Silwanus – 502024045



